Akses Kesempatan Wanita di Dunia Kerja Indonesia Masih Payah

Akses Kesempatan Wanita di Dunia Kerja Indonesia Masih Payah

Perusahaan mestinya tidak melulu berorientasi pada penelusuran keuntungan, namun juga dapat menjadi agen evolusi dalam menciptakan dunia kerja yang berkeadilan gender. Sayangnya, Indonesia tergolong dalam kelompok negara yang belum secara serius mengelola isu urgen yang satu ini.

Berdasarkan keterangan dari laporan UN Women, dari 1.800 perusahaan di dunia yang menandatangani 7 Prinsip Pemberdayaan Ekonomi Perempuan baru 10 perusahaan saja di Indonesia yang melakukannya.
Lebih lanjut, hasil studi terkini yang dilaksanakan oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dan UN Women mengungkap bahwa baru 4% saja dari 37 perusahaan di Indonesia yang secara aktif mengusahakan kesetaraan penghasilan antara karyawan perempuan dan laki-laki.

Meskipun 70% perusahaan sudah mengusahakan sejumlah hal untuk menolong kenyamanan bekerja wanita, seperti meluangkan ruang laktasi, day care, atau memberikan kepandaian waktu kerja yang fleksibel, namun baru 22% saja perusahaan yang menyediakan kemudahan pendidikan eksklusif atau pelatihan untuk para karyawan wanitanya.

“Padahal, ketika ini rantai suplai pasokan dan praktik pemasaran telah tidak sedikit mengadopsi teknologi. Rendahnya akses perempuan terhadap penguasaan teknologi ini menjadi di antara penghambat majunya karier perempuan di dunia kerja,” sesal Lily Puspasari, Program Specialist guna UN Women Indonesia di peluang pemaparan Faktor Kunci Budaya Perusahaan dalam Upaya Mengedepankan Kesetaraan Gender serta Memperkecil Kesenjangan Pendapatan yang diadakan oleh Accenture bareng IBCWE, Jumat (23/3) di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Fakta-fakta di atas sekaligus memperlihatkan betapa tidak meratanya kesempatan, akses, dan kemudahan yang diserahkan kepada pekerja wanita. Padahal, perempuan mempunyai sumbangan signifikan dalam perekonomian global. Laporan UN Women di tahun 2011 mengungkap bahwa perempuan – baik sebagai konsumen atau pelaku usaha – menyumbang US$20 triliun terhadap perekonomian global! Lily yakin, bahwa angka ini mempunyai tren yang terus meningkat.

Salah satu teknik yang dapat membantu penguatan kontribusi perempuan di dunia kerja ialah dengan menanam lebih tidak sedikit pemimpin perempuan di jajaran komisaris. Sayangnya, dari 89% perusahaan yang menjadi objek studi, jumlah perempuan di jajaran komisaris baru menjangkau 32% saja. Sementara itu, sejumlah 54% perusahaan bahkan menyatakan tidak memiliki kepandaian untuk menanam wanita di posisi direksi.

“Padahal, lembaga internasional perburuhan, ILO, mengungkap dalam studinya bahwa menanam wanita pada posisi supervisor terbukti sukses meningkatkan produktivitas sebuah departemen sampai 25%,” ungkap Neneng Goenadi, Country Managing Director dari Accenture Indonesia.

Dalam studi terkininya, Creating A Culture Of Equality, Accenture mengungkap bahwa di Indonesia, penempatan satu perempuan di jajaran tinggi kepemimpinan bisa mendorong tingginya jumlah wanita guna masuk di jalur cepat karier, yakni 21%. Dari segi proporsi, angka ini tiga kali lebih banyak daripada yang terjadi di global.

“Penting untuk perusahaan guna bersatu dan berjejaring dalam mencoba tercapainya perkembangan ekonomi yang powerful dengan menyerahkan akses peluang dan melibatkan lebih tidak sedikit wanita dalam dunia kerja,” ungkap Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group dan Ketua Dewan Pembina IBCWE.


Baca Juga: