Bila Esok Hari Menjelang

Bila Esok Hari Menjelang

Bila Esok Hari Menjelang

Bila Esok Hari Menjelang

Karya : Ratna Novita Sari  

Pagi itu, Wulan tergesa – gesa menuju kelasnya, dia tidak ingin terlambat mengikuti ulangan kimia Pak Narto, si guru killer itu, karena selangkah saja di belakang beliau, jangan harap diperbolehkan memasuki kelas. Wulan melirik jam sekilas, pukul 07. 05, itu artinya bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu, dengan harap – harap cemas, ia mempercepat langkah kakinya.

Tiba – tiba, Pak Narto muncul di ujung koridor, kontan Wulan berlari sekuat tenaga menuju kelasnya. Dan lucunya, begitu melihat Wulan lari – larian menuju kelas dari arah yang berlawanan, beliau ikut mempercepat langkah kakinya. Tapi syukurlah, pertandingan adu cepat – cepatan masuk kelas itu, akhirnya dimenangkan oleh Wulan. Dengan senyum penuh kemenangan dan nafas ngos – ngosan, Wulan memasuki kelas.

“ Gila kamu, Lan ! Di hari sepenting ini kamu masih aja telat, “ kata Sita, teman sebangkunya, heran.

            “ Hehe….., sory, kamu kan tahu kalau aku emang nggak bisa bangun pagi, “

“ Gimana coba kalau tadi kamu nggak boleh masuk kelas, bisa mati aku sendirian,” sungut Sita.

Pak Narto mulai berkeliling membagikan kertas soal. Hmm, 70 soal dalam waktu 1 jam, lumayan juga. Wulan dengan segera mulai mengerjakan dengan serius, begitu juga teman – temannya yang lain. Pukul 09. 30, bel berbunyi 3 kali, tapi tidak ada yang bergeming, masih sibuk tengok kanan dan kiri.

“ Ayo anak – anak ! Kumpulkan, kalau tidak saya tinggal !, “ ancam Pak Narto.

Wulan melenggang mengumpulkan lembar jawabnya di saat teman – temannya yang lain memanfaatkan situasi yang ramai ini untuk mencontek.

“ Gimana, Lan ? Sukses ?, “ tanya Adi.

“ Insyaallah, “ jawab Wulan sambil tersenyum lebar.

“ Pintere cah iki, “ sambung temannya yang lain.

Wulan memang tergolong anak yang cerdas, tapi dia bukan anak yang rajin, lihat saja nilai sejarah atau biologinya, berbeda jauh dengan nilai – nilai IPAnya yang gemilang.

Baca Juga :