Dampak Negatif yang Ditimbulkan ketika Tidak Bersikap Jujur

Dampak Negatif yang Ditimbulkan ketika Tidak Bersikap Jujur

Dampak Negatif yang Ditimbulkan ketika Tidak Bersikap Jujur

Dampak Negatif yang Ditimbulkan ketika Tidak Bersikap Jujur

Menurut penelitian yang dilakukan Anita Kelly

Profesor psikologi dari Universitas Notre Dame di Indiana (dalam Susilo, 2014: 160), membeberkan studi tentang sikap jujur dan kesehatan tubuh. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa kejujuran bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Dengan kata lain, seseorang yang suka berbohong dapat membuat fisik mudah sakit. Kelly telah melakukan penelitian dengan sebuah tes kejujuran terhadap 110 orang dengan rentang usia 18-71 selama sepuluh pekan. Hasilnya, terbukti bahwa kebohongan membuat kesehatan para responden menurun. Selain itu, ditemukan juga beberapa keluhan fisik dan mental akibat berbohong, seperti perasaan tegang atau melankolis, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Sebaliknya, kesehatan mereka kembali membaik saat mereka bersikap jujur.

 

Lebih lanjut Profesor Linda Stroh dari Universitas Loyola di Chicago

(dalam Susilo, 2014: 161) juga berpendapat sama. Menurutnya, berbohong bisa membuat pikiran menjadi stres. Dan akibat yang ditimbulkan dari stres tersebut bisa dirasakan langsung pada tubuh. Demikian pula, Robert Feldman, psikolog dari Universitas Massachusetts, Amherst, Amerika Serikat ini juga berpendapat sama. Menurutnya, perilaku jujur dan tulus membuat orang lebih sehat secara psikologis (vivanews.com dalam Susilo, 2014: 161).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dampak negatif yang ditimbulkan ketika tidak bersikap jujur (berbohong) yaitu dapat membuat fisik mudah sakit atau kesehatan menurun. Ditemukan juga beberapa keluhan fisik dan mental akibat berbohong, seperti perasaan tegang atau melankolis, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Selain itu berbohong bisa membuat pikiran menjadi stres. Dan akibat yang ditimbulkan dari stres tersebut bisa dirasakan langsung pada tubuh.

 

Tidak Egois

Nilai ketiga yang terkandung dalam karakter dasar adalah tidak egois, menurut Sudewo (2011: 73) tidak egois secara harfiah berarti tidak mementingkan diri sendiri. Maknanya bisa luas dan mendalam. Tidak egois melambangkan perilaku baik dan bersahaja. Kesannya rendah hati, mengalah, dan mementingkan pihak yang lebih butuh, lebih banyak, dan lebih bermanfaat. Hidup orang tidak egois tidak macam-macam, tidak suka menyakiti orang, dan tidak bertingkah apalagi mengundang perkara.

 

Tidak egois mengantar hati seseorang jadi bersih.

Dengan hati yang bersih, hidup orang tidak egois cenderung lebih tentram, lebih tenang, lebih nyaman. Karenanya orang yang tidak egois bisa lebih selamat dalam banyak hal. Saat orang berebut sesuatu, orang tidak egois cenderung menarik diri. Waktu orang berlomba untuk meraih sesuatu, orang yang tidak egois tidak larut di dalamnya.

Tidak egois mengutamakan keselamatan dan ketentraman. Tidak berlebihan karenanya dia menyamankan banyak pihak. Nyaris tidak ada yang menganggap dirinya sebagai lawan, apalagi musuh yang berbahaya. Orang yang tidak egois akan lebih banyak memiliki teman ketimbang lawan. Sudewo, (2011: 74) menjelaskan bahwa konsep hidup orang tidak egois mengalir bagai air. Yang ada disyukuri, yang belum ada tidak mengganggu pikirannya. Karena sifat mengalahnya, nafsu unntuk memiliki tipis. Yang ada pun hendak dibagi. Yang tidak ada tidak terpikir hingga rendah sekali keinginan untuk memiliki sesuatu yang belum ada. Maka lebih mustahil lagi berharap orang yang tidak egois ingin memiliki sesuatu dengan menyulitkan diri sendiri.

 

Dalam mencari kehidupan, orang tidak egois tidak akan berburu harta.

Dalam benaknya hanya kecukupan, tidak meruah-ruah berlebihan dalam harta dan fasilitas. Kecukupan ini jadi kunci utama kebersihan diri orang tidak egois. Sebab kecukupan itu pasti dilandasi keinginan untuk tidak memiliki apapun, kapanpun, dan dimanapun. Keinginan tidak memiliki jadi landasan, jadi fondasi pula, jadi inti serta ruh dari tidak egoisnya. Tidak memiliki tetapi berbagi, itulah puncak perjuangan. Dengan tidak ingin memiliki tetapi berbagi, sesungguhnya orang tidak egois telah menyingkirkan hambatan terbesar manusia untuk melakukan banyak hal. Dengan tidak ingin memiliki, tidak egois justru bisa mengmbangkan potensi siapapun disekitarnya.

Ada dua alasan yang melatarinya. Pertama, yang tidak egois mafhum dirinya terbatas. Kedua ada pihak lain yang punya kelebihan. Karenanya dengan tidak ingin memiliki, orang tidak egois melepas sesuatu yang tidak bisa dikembangkan karena keterbatasan dirinya. Dengan tidak ingin memiliki, keikhlasan orang yang tidak egois mendorong pihak lain untuk bisa mengembangkan diri dengan lebih baik. “Kelebihan air jangan ditahan, karena bisa mematikan tanaman yang lain”. Begitu kata-kata bijak yang dipegang oleh orang yang tidak egois.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/