Empat Bank Siap Gelontorkan Kredit Rp 8 Triliun ke Telkom

Empat Bank Siap Gelontorkan Kredit Rp 8 Triliun ke Telkom

Empat Bank Siap Gelontorkan Kredit Rp 8 Triliun ke Telkom

Empat Bank Siap Gelontorkan Kredit Rp 8 Triliun ke Telkom

Empat Bank Siap Gelontorkan Kredit Rp 8 Triliun ke Telkom

Empat bank BUMN siap menggelontorkan dana Rp 8 triliun ke PT Telkom Tbk untuk mendanai pembangunan menara (tower), transmisi kabel, baterai, dan base tranceiver station (BTS). Keempat bank itu adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).
Telkom pada tahun ini menganggarkan belanja modal sebesar 2,5 miliar dollar AS atau setara Rp 22,5 triliun. Anggaran itu hampir sama dengan belanja modal tahun lalu. Anggaran modal tersebut digunakan untuk pengembangan sektor seluler sekitar Rp 14 triliun-Rp 15 triliun, dan non-seluler Rp 7 triliun-Rp 8 triliun. Pengembangan itu mencakup pembangunan menara (tower), transmisi kabel, baterai, dan base tranceiver station (BTS).
Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah dalam Kompas (5 Januari 2009) mengatakan, ke empat bank tersebut sanggup mengeluarkan kredit pembiayaan ke PT Telkom. Saat ini pihaknya tengah memfinalisasi pendanaan tersebut guna menutupi kebutuhan belanja modal perseroan tahun ini. “Tidak masalah karena perbankan sudah berkomitmen. Tinggal tunggu penandatanganannya saja. Dari sumber pendanaan eksternal yang ada saat ini, pinjaman perbankan merupakan opsi terbaik dan membantah Telkom akan menerbitkan obligasi untuk belanja modal.
Rinaldi dalam Kompas (5 Januari 2009) mengungkapkan, meskipun pada tahun ini pasar masih dalam proses pemulihan (recovery), Telkom optimistis dapat meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen. Target Telkom tahun ini memang konservatif, paling tidak single digit.

Sehat, Kondisi Perbankan Indonesia Tahun Ini

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas), Sigit Pramono dalam Kompas (6 Januari 2009) mengatakan, memasuki 2009 secara umum kondisi perbankan Indonesia sehat.
Ada sekitar 20 bank yang harus diberi perhatian karena rasio kecukupan modalnya (CAR) di bawah 12 persen. Secara umum sehat dari indikator apa pun. NPL (non performing loan) di bawah 5 persen, LDR (loan to deposit ratio) 77 persen, CAR-nya rata-rata juga di atas 8 persen.
Menurut Sigit dalam Kompas (6 Januari 2009), ada beberapa dari 128 bank yang sebelum terjadinya krisis keuangan global sudah memiliki NPL agak tinggi di atas 5 persen. Kita harus fokus menjaga bank-bank yang kategori ini. Kita harus mengamati lebih serius karena bank-bank ini akan menjadi pemicu kalau ada apa-apa. Bank Century sebagai contoh yang dalam keadaan normal seperti tidak bermasalah, tetapi langsung berada dalam tekanan masalah likuiditas ketika terjadi krisis keuangan global. Kita harus lihat bank-bank ini karena dapat berpotensi memicu di saat krisis. pada 2009 tantangan yang dihadapi perbankan nasional adalah potensi NPL atau kredit bermasalah karena beberapa nasabah akan mengalami kesulitan membayar dan pada akhirnya meminta restrukturisasi pinjaman. Semua bank harus mulai mengantisipasi ini, karena kalau tidak mereka akan terkaget-kaget mengenai melonjaknya NPL itu. Potensi meningkatnya kredit bermasalah pada 2009 hanya bisa dihindari dengan faktor eksternal dari kebijakan pemerintah, seperti stimulasi perpajakan sehingga nasabah pengusaha dapat menekan biaya produksi untuk membayar bunga kredit di bank. Masalah likuiditas juga akan membebani perbankan pada 2009 meski sebenarnya likuiditas rupiah masih longgar. Persoalannya adalah ada kecenderungan menumpuk di beberapa bank. Ada bank-bank yang cukup, ada yang kurang. Selama ini masih ada ketidakpercayaan kredit antar bank. pemerintah sebaiknya mempertimbangkan jaminan penuh yang juga mencakup pinjaman antarbank sehingga bank yang memiliki kelebihan dana bisa menyalurkan ke bank yang kekurangan likuiditas tanpa kekhawatiran berlebihan.

Sumber : https://jalantikus.app/