Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu)

PERKEMBANGAN MAZHAB SYIAH PADA MASA DINASTI SAFAWIYAH

Syiah yang Dianut Pada Masa Dinasti Shafawiyah

Pada masa dinasti Shafawiyah, Syiah Itsna Asy’ariyah ditetapkan sebagai mazhab resmi negara. Syi’ah Itsna Asy’ariyah atau Syi’ah dua belas Imam adalah cabang dari ajaran Syi’ah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam.
Menurut keyakinan Syi’ah Dua belas, doktrin imamah sebagai bagian ajaran pokok Syi’ah Dua belas. Mereka meyakini bahwa setiap umat yang hidup di muka bumi harus dipimpin oleh seorang imam. Imam adalah pemimpin setengah ilahi yang kharismatik, sebagai perantara manusia dan Tuhan. Imam menurut ajaran Syi’ah Dua belas selain mempunyai kemampuan wasayah (pemegang otorisasi wasiat agama) dan walayah (pemegang otiorisasi kekuasaan temporal). Selain itu, imam juga mempuyai sifat ’ismah, nubuwwah, dan ’adalah. Namun karena para pemimpin Tarekat Syafawi bukan termasuk keturunan Imam Ali Ibn Abi Thalib, berarti mereka pun tidak memiliki kemampuan dan sifat-sifat sebagaimana para imam (12 imam Syi’ah); dan oleh karenya mereka merasa dan meyakini sebagai ”pengganti Imam Gaib bernama al-Mahdi al-Muntazar” (nuwab al-imam).
Syi‘ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah adalah aliran Syi‘ah yang mengakui eksistensi dua belas orang imam yang berhak memimpin seluruh masyarakat muslim. Kedua belas imam tersebut dimulai dari ‘Alî ibn Abî Thalib sebagai penerima wasiat dari Nabi Muhammad SAW. melalui nash. Para penerima wasiat (al-awshiyâ) setelah ‘Alî adalah keturunan Fathimah, yaitu Hasan kemudian Husein, selanjutnya ‘Alî Zain al-‘Abidîn, Muhammad al-Bâqir, Ja’far al-Shiddiq ibn Muhammad al-Baqîr, Mûsa al-Kazhim, ‘Alî alRidha, Muhammad al-Jawad, ‘Alî al-Hadî, Hasan al-‘Askarî, dan anaknya, Muhammad, sebagai imam yang kedua belas.

B. Perkembangan Mazhab Syiah Pada Masa Dinasti Shafawiyah
Pada pertengahan tahun 1501 M Ismail I dinobatkan sebagai syah Iran sekaligus memproklamirkan berdirinya Dinasti Shafawiyah dengan Tabriz sebagai ibu kotanya. Dia juga menetapkan Syi’ah Itsna Asy’ariyah sebagai mazhab resmi negara. Penetapan Syi’ah sebagai mazhab resmi negara dilakukannya dalam suatu khutbah sholat jumat pada 1501 M. masyarakat iran yang awalnya bermazhab Sunni harus berpindah menjadi pengikut Syi’ah.
Ismail I memerintahkan seluruh rakyatnya untuk menganut Syi’ah “ aku mendapat mandat untuk melakukan ini dan sesungguhnya Allah SWT dan imam-imamnya yang maksum bersamaku dalam hal ini. Aku tidak takut dengan siapa pun, maka apabila aku temukan orang yang menentangku, niscaya akan kupenggal lehernya”. Ismail I tidak segan menganiaya, memenjarakan dan mengeksekusi Sunni yang keras kepala.
Ismail I memaksa rakyatnya untuk menganut Syi’ah, dia mengaku sebagai “bayangan tuhan di muka bumi”. Syi’ah sepakat tentang maslah imam yang harus sampai pada generasi kedua belas dari Ali, namun imam yang kedua belas hilang ketika dia masih kecil. Orang Syi’ah mempercayai bahwa imam kedua belas tidak meninggal tapi masuk ke dalam “keghaiban” (imam ghaib). Berdasarkan hal tersebut Syah Ismail I mengaku sebagai imam ghaib.

Sumber: https://vds.co.id/