Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Pernah suatu ketika saya sedang ngumpul-ngumpul dengan senior-senior aktivis. Seperti biasa kami ngobrol-ngalor ngidul seperti dulu. Mulai dari persoalan social-ekonomi-politik tuntas kita sentil satu persatu. Hanya saja ada yang aneh menurut saya. Lontaran-lontaran mereka tetep saja tajam, analisisnya masih kritis seperti dulu, tapi sudah mulai ada keraguan-keraguan.

Saat kita bicara tentang korupsi, misalnya, buru-buru disampaikan bahwa banyak mantan aktivis yang terjerat kasus korupsi. Tidak ada jaminan kalo mantan aktivis tidak akan korupsi. Korupsi di Indonesia sudah sangat “sistemik” sehingga wajar kalo kita masuk dalam “system korup” seperti itu karena kita masih sah menjadi warga negara Indonesia. Korupsi di Indonesia sudah “mengakar” sehingga sangat susah bagi kita “tercerabut” darinya karena kita sudah lama menikmati “buahnya”, consciously-unconsciously. Korupsi di Indonesia sudah “mendarah daging”, dilakukan oleh semua orang di setiap tingkatan. Sudah tidak perlu lagi bagi kita untuk “berdarah-darah” sampai titik darah yang penghabisan untuk memerangi korupsi.

Masih ndak percaya atau mendadak naik pitam gara-gara diberi penjelasan seperti itu? Tahan sebentar, karena saya akan mengurai faktanya. Baru-baru ini saya mendapat info dari teman bahwa pengurus cabang baru saja mendapat bantuan dana 50 juta dari salah satu anggota DPRD yang terkenal dermawan pada kadernya itu. Bukan main semangatnya teman saya menceritakan berita gembira ini. Mungkin karena yang menjadi ketua cabang adalah yuniornya. Tapi pernahkah ditanyakan darimana asal duit 50 juta itu? Duit pribadi, organisasi, atau malah duit Negara. Kalo duit pribadi apa kompensasinya? Kalo duit organisasi bagiamana pertanggungjawabannya? Kalo duit Negara melalui mekanisme apa beliau dengan mudah mengalokasikannya bagi kepentingan cabang?

Believe it or not, Ini juga dialami oleh adik-adik komisariat atau lebih tepatnya KITA di jaman dulu. Karena buah tangan kitalah mereka bias jadi seperti itu . Mereka terpaksa kelayapan kesana-kemari hanya untuk mempertahankan nasib organisasinya dan dirinya sendiri setiap habis masa kontrakan, musim Mapaba, dan PKD. Hampir segala peluang disabet. Kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, semua disambati. Seperti orang berdagang, kadang untung kadang rugi. Kadang bathi kadang noroki. Dan sama dengan pengurus cabang diatas mereka berbinar-binar ketika mendapat segepok uang dari ketua parpol pecahan PKB yang sedang sibuk deklarasi dimana-mana itu. Adakah yang sempat berfikir : darimana mereka dapat uang sebanyak itu? sedemikian baik hatikah mereka hingga sedemekian percayanya pada kita yang bukan apa-apanya ini?

Suatu ketika ada yang bertanya : “Mas, apa hukumnya menghidupi uang organisasi dari cara-cara begitu? Kalo organisasinya hidup dari uang haram maka perjalanannya nanti tidak akan barokah, seperti hidup kita bila diberi makan barang haram”. Mendapat pertanyaan begitu saya berkelit sekenanya, bahwa sekalipun demikian toh uangnya masih kita manfaatkan untuk kepentingan organisasi. Tidak ada sedikitpun niat dari kita untuk ngemplang apalagi cari makan dari duit organisasi. Semakin manggut-manggut dia mendengar jawaban saya semakin bertambah rasa pening di kepala. Jauh di dalamnya, di pusat kesadaran dan memori, saya teringat betapa banyak kader yang keluar dengan cara su’ul khotimah! Betapa banyak kader yang mulai ragu dengan aswaja, pentingnya pembelaan terhadap kaum mustadl’afiin, perlawanan terhadap kapitalisme global! Betapa banyak kader yang merasa tidak mengenal satu sama lain justru ketika mereka beranjak sukses! Betapa susahnya mengumpulkan mereka kelak setelah lulus untuk bersama-sama “ndandani negoro” meski hidup juga belum juga “gek ndang toto”. Betapa rumitnya merancang aksi bersama meski hanya sekedar ARISAN!!!Jawaban sementara saya : MUNGKIN BENAR, ORGANISASI INI TIDAK BAROKAH……..

Demikianlah, perbincangan mengenai satu topic saja, KORUPSI, bias merembet kemana-mana. Ia ibarat petir yang menyambar-nyambar seluruh permukaan bumi dan tanpa sadar ia juga menuju pohon tempat kita bersembunyi. Setiap diskusi selalu berujung pada terbukanya wajah bopeng kita sendiri, membuka seluruh hijab dan jubah kebesaran mantan-mantan mahasiswa, mantan-mantan dan aktivis mahasiswa. Lontaran-lontaran yang kritis tidak lagi semakin mendekatkan idealisme pada realitas. Fakta-fakta, data empiric tidak lagi digunakan sebagai basis perlawanan tapi cukup dijadikan pengantar bagi ketidakberdayaan kita. Ketajaman analisis malah justru semakin mengaburkan antara visi dan fiksi. Wajar, bila banyak yang mulai ragu-ragu, tidak percaya hingga putus asa terhadap nasib keindonesiaan kita.

Meskipun begitu tidak semua orang tidak peduli terhadap nasib keindonesiaan kita. Saya bias membuktikannya. Suatu hari ban belakang sepeda motor saya kempis. Hati saya dongkol karena waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 pagi. Itu artinya saya terlambat 30 menit. Mungkin saya tidak diperbolehkan masuk PT.PAL, tempat saya kerja praktek. Padahal hanya inilah satu-satunya sks yang membuat masa depan saya tertahan di kampus. Dengan susah payah saya tuntun motor menuju tempat tambal ban terdekat. Untunglah, kurang dari 20 meter berjalan penderitaan ini berakhir. Kulihat seorang lelaki tua sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tanpa sengaja aku membangunkannya dari tidur. Setengah sadar beliau menyapa.

“Ada apa, dik?”

“Anu, pak. Ban belakang motor saya kempis. Mungkin bocor, Pak?”

“Sebentar, saya periksa dulu. Cepat kemarikan motormu.”

Beliau bangkit dari tidurnya. Bergegas ia mengambil peralatannya di saat saya mulai menempatkan motor seperti yang diperintahkan. Lega rasanya. Sambil menunggu saya merogoh isi saku di sebelah kanan celana. Karena kosong tangan saya berpindah ke saku sebelah kiri hingga ke belakang. Ya, ampun! Ternyata aku cuma bawa duit 2 ribu rupiah. Pasti nggak cukup kalo untuk ongkos tambal ban. Kuatur nafas setenang mungkin sambil mulai mengumpulkan keberanian.

“Aku akan bicara bila ban motorku sudah betul”, pikirku saat itu.

Tak selang berapa lama, sang bapak menggumam :

“Wah, kalo begini ya tidak bias ditambal, dik!”

“Ooooo, begitu ya, pak!”

“Lihat, bannya sobek sedemikian panjang. Sudah nggak mungkin lagi ditambal.”

“Trus, gimana pak?”

“Ini harus diganti ban baru, dik.”

Makin bingung pikiran ini. Buat tambal saja nggak cukup apalagi beli ban baru.

Makin bingung lagi karena hpku kehabisan pulsa. Aku baru ingat kalo bulan ini aku belum gajian. Kalo nggak beli baru aku nggak bias kerja praktek kalo nggak beli aku juga nggak bias kemana-mana. Sebelum situasi tambah parah, langsung saja saya menyela..

“Udah nggak perlu dibelikan ban baru, pak!”

“Lho, emangnya kenapa, dik?”

“Begini, pak. Saya cuma punya duit 2 ribu. Buat tambal ban saja kurang apalagi beli ban baru.”“Udah nggak papa, dik. Pake uang saya saja dulu. Kamu kan harus berangkat kerja hari ini. Iya, kan? Kamu kerja dimana?”“Saya masih mahasiswa,pak! Kebetulan lagi kerja praktek di PT.PAL.”“Tuuh, masih mahasiswa lagi. Udah tunggu saja disini biar bapak yang belikan.”

Sebelum sempat saya menjawab sang bapak sudah ngeloyor menuju rumahnya yang tak jauh dari tempat dia bekerja. Setelah mengambil uang beliau pergi ke seberang jalan untuk membeli ban baru. Setelah selesai dibawanya ban baru itu untuk kemudian dipasang di motorku.

Tidak ada pembicaraan yang berarti. Aku masih shock melihat ketulusan orang tua satu ini. Saking shocknya aku sampai begitu kurang ajar membiarkan beliau membeli ban itu sendiri. Padahal aku yang butuh. Padahal aku yang tidak bawa duit. Padahal aku telah merepotkannya. Aku baru sadar kalo 10 tahun masa kuliahku ini hanya menjadikanku manusia kurang ajar yang tak tahu terima kasih, tak tahu malu, tak tahu diuntung, mau enaknya sendiri.Sudah ditolong masih ongkang-ongkang lagi. Dasar!!!!

“Sudah, dik!”

“Ehhh, sudah ya pak?”

“Iya, cepat kamu berangkat. Mumpung belum terlalu siang.

“Terima kasih banyak, pak! Insya allah, besok pagi-pagi sekali saya akan mampir kesini untuk membayar duit ban sekaligus ongkosnya.Saya mohon maaf sudah banyak merepotkan bapak hari ini.”

“Ah, nggak papa dik. Sudah biasa, kita harus saling menolong”

“Saya bingung pak. Bagaimana cara saya membalas kebaikan bapak pada saya?”

“Sudahlah, nggak usah terlalu dipikir. Kalo sempat bayar silahkan, kalo nggak sempat juga nggak papa. O iya, kamu tadi bilang kalo mahasiswa. Nah, karena masih mahasiswa, kamu sekolah yang bener. Aku titip Indonesia. Tolong, sampeyan dandani negoro iki supoyo tambah apik, tambah makmur. Ojo koyok nasibe bapak iki. Kalo bukan sampeyan-sampeyan begini trus siapa lagi yang akan ndandani Indonesia.”

Sepanjang perjalanan seluruh perasaan maha dahsyat bercampur aduk jadi satu. Mungkin ini yang dirasakan Muhammad ketika mendengar wahyu pertama kali di gua hira’. Saya merasa “begitu tercerahkan” meski diliputi rasa malu yang hebat. Keindonesiaan seorang mahasiswa kalah jauh dibandingkan keindoneisaan seorang tambal ban.

Mungkin tidak ada lagi pemuda yang berapi-api ngomong masa depan Indonesia seperti bung karno, bung hatta, sjahrir, agus salim, wachid hasyim, bung tomo, mas pram, cak nun. Mungkin tidak ada lagi demonstran-demonstran macam gie, munir, wiji thukul yang setia pada kehormatan dan martabat bangsa dan Negara Indonesia hingga nafas penghabisan. Tapi saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ada seorang tua yang begitu mengguncangkan kesadaran saya. Dia bukan mahasiswa, bukan dosen, bukan rector, bukan menteri, bukan presiden. Dia bukan ulama, bukan kyai, bukan ustadz, bukan dai. Dia bukan saudagar, bukan pengusaha, bukan juragan kaya. Dia cuma seorang tukang tambah ban yang ternyata lebih serius, lebih “gati”, lebih prihatin soal masa depan bangsa ini dibanding saya sendiri, seorang mahasiswa. Ada yang mau mengikuti?

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/