Langkah Kegiatan Apresiasi Puisi

Langkah Kegiatan Apresiasi Puisi

langkah Kegiatan Apresiasi Puisi

langkah Kegiatan Apresiasi Puisi

Kegiatan apresiasi tentunya bukanlah kegiatan yang dilakukan tanpa prosesedur.

Jika dirunut, sebenarnya ada tahapan-tahapan yang dilakukan di dalam proses apresiasi. Sumardjo dan Saini (2001: 130-132) mengemukakan bahwa langkah kerja kegiatan mengapresiasi puisi mencakup tiga tahapan atau langkah berikut ini.

Kumpulan cerpen, puisi atau novel yang dibaca merupakan sumber informasi dari keabsahan materi sastra yang akan diajarkan guru. Pengamatan terhadap sumber materi ini sangat perlu dilakukan guru sebelum proses mengajar dilakukan. Selain itu, dalam pembelajaran apresiasi sastra juga dapat dilakukan dengan menggunakan berbaga media pembelajaran. Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra misalya: laboratorium bahasa, gambar, novel, teks (prosa, puisi, atau drama).

Uraian di atas mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran puisi, siswa harus secara aktif terlibat langsung dalam pembelajaran tersebut. Belajar pada prinsipnya adalah mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Bila pembelajaran itu adalah pembelajaran apresiasi puisi, maka siswa sendirilah yang memilih, membaca puisi tersebut. Di sini guru hanyalah berkedudukan sebagai fasilitator. Guru harus siap membantu, membimbing, dan memotivasi siswa yang mendapat kesulitan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sapardi yang mengatakan bahwa dalam apresiasi sastra, guru sebaiknya berfungsi sebagai rekan yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, yang bersama-sama dengan murid-muridnya berusaha menghayati karya sastra. Guru sastra adalah sekadar pendamping murid-muridnya dalam usaha mengungkapkan penghayatan, tanggapan, dan penilaian pengarang terhadap kehidupan (Shindunata, 2001: 217).

 

a.    Langkah pertama

Dalam proses apresiasi puisi, langkah pertama adalah keterlibatan jiwa, yaitu suatu peristiwa ketika pembaca atau pendengar memikirkan, merasakan, dan membayangkan (mengkhayalkan) kembali apa yang pernah dipikirakan, terasa, dan terbayangkan oleh penyair dengan bertolak dari kata-kata yang dibaca atau didengarnya. Keterlibatan jiwa dalam suatu karya puisi dapat diuji melalui jawaban-jawaban atas pertanyaan sebagai berikut: (1) Apakah yang dipikirkan penyair? Bagaimana pendapat penyair tentang pokok yang dipikirkannya itu?, (2) Bagaimana perasaan penyair tentang pokok itu? (3) Bagaimana nada bicara penyair? (4) Apakah maksud penyair?

 

b.    Langkah kedua

Dalam langkah kedua, pembaca mulai melihat hubungan antara pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan khayalan-khayalannya dengan unsur-unsur bahasa. Kemampuan melihat hubungan unsur-unsur bahasa dengan pengalaman dapat diuji pula melalui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Mengapa saya berpendapat bahwa penyair berbicara mengenai suatu pokok? Mengapa saya berpendapat bahwa pokok itu dan tidak berpendapat lain? (2) mengapa saya berpendapat bahwa penyair bersedih hati, marah, benci dll? (3) Mengapa saya berpendapat bahwa penyair berbicara dengan nada tertentu? (4) Mengapa saya berpendapat bahwa penyair menginginkan terjadi dampak tertentu pada diri saya setelah membaca karyanya? (5) mengapa saya berpendapat bahwa penyair bicara di tempat tertentu, di waktu tertentu, dan dalam keadaan tertentu?

 

c.    Langkah ketiga

Langkah ketiga terjadi ketika pembaca menemukan atau tidak menemukan hubungan atau relevansi pengalaman yang didapatnya dari karya puisi itu denganpengalaman pribadinya khususnya dan kehidupan umumnya. Kemampuan pembaca dalam menghubungkan puisi yang dibacanya dengan kehidupannya dapat diuji melalalui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Apakah makna pengalaman yang saya dapat dari karya puisi itu bagi kehidupannya saya sebagai pribadi? (2) Apakah makna pengalaman yang terdapat dalam karya puisi itu kalau dihubungkan dengan kehidupan masyarakat saya, bangsa atau bahkan kemanusiaan umumnya?

Kalau kita perhatikan, langkah-langkah kegiatan apresiasi yang diungkapkan oleh Sumardjo dan Saini tersebut sudah tidak mengarah kepada pemahaman unsur-unsur pembangun puisi, tetapi sudah menagarah kepada penggalian respon siswa terhadap puisi yang diapresiasi. Dalam proses apresiasi, penggalian respon siswa merupakan proses yang harus dilakukan agar siswa memiliki ketelibatan secara emosional terhadap puisi yang dibacanya. Di samping itu, respon merupakan ciri penanda siswa melakukan apresiasi.

Ada berbagai jenis respon yang menandai siswa melakukan apresiasi. Purves dan Rippere (dalam Saini, 2001:13) mengklasifikasikan empat jenis respon, yakni (a) afektif, yang berkaitan dengan ketertarikan, yakni efek karya sastra (termasuk puisi) kepada siswa, (b) objektif, yang berkaitan dengan persepsi, yakni mendiskripsikan, menggambarkan, atau mengungkapkan kembali puisi, (c) interpretif, berkaitan dengan mempertimbangkan makna dan signifikansi puisi, dan (d) evaluatif, yang berkaitan dengan menilai karya puisi dengan menggunakan kriteria tertentu.

 

Secara lebih rinci, Beach dan Marshall (dalam Saini, 2001: 28-33)

Mendeskripsikan tujuh jenis respon. Pertama, tertarik. Ketertarikan ini berkaitan dengan reaksi-reaksi emosinal siswa terhadap aspek-aspek puisi yang sedang diapresiasinya, misalnya terhadap pilihan kata, gaya bahasa yang digunakan, persajakan, tipografi, atau yang lain. Ketertarikan siswa terhadap aspek-aspek puisi tampaknya merupakan tahap awal yang menandai apresiasi.

Kedua, mendeskripsikan. Siswa mendeskripsikan sebuah teks puisi ketika mereka menampilkan kembali informasi yang ditampilkan oleh baris demi baris teks puisi. Misalnya, mereka dapat mencatat aspek-aspek puisi. Kemampuan ini penting karena hal ini akan berguna di dalam proses memaknai puisi yang dibacanya.

Ketiga, memahami. Dalam proses apresiasi, kemampuan mendeskripsikan belum cukup. Kemampuan itu perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami terhadap aspek-aspek yang telah dideskripsikan. Dalam kemampuan ini, siswa bukan sekedar mendeskripsikan informasi, tetapi beranjak kepada pembuatan pernyataan atas pemahaman mereka terhadap aspek-aspek puisi.

Keempat, menjelaskan. Menjelaskan merupakan kemampuan untuk menjelaskan pemahaman terhadap unsur-unsur puisi. Misalnya, mengapa siswa memaknai kata X sebagai Y? Kelima, menghubungkan. Dalam hal ini, siswa mengaitkan hal-hal yang ada dalam teks puisi dengan pengalaman nyata mereka. Misalnya, kata penggunaan simbol „burung gagak‟ dikaitkan dengan pemahaman umum yang berlaku di masyarakat.

Keenam, menafsirkan. Dalam tahap ini siswa sudah mampu memaknai puisi secara totalitas. Pertanyaan yang mendasar adalah „teks puisi itu membicarakan tentang apa?‟. Ketujuh, menilai. Dalam konteks ini siswa menilai kualitas puisi yang diapresiasinya. Misalnya, rasional/tidak rasional; normal/tidak normal; sesuai/tidak sesuai.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/