Macam KTI yang berasal dari Laporan Penelitian

Macam KTI yang berasal dari Laporan Penelitian

Macam KTI yang berasal dari Laporan Penelitian

Macam KTI yang berasal dari Laporan Penelitian

Macam KTI yang berasal dari Laporan Penelitian

Berdasar definsi pada Kepmendidbud No. 025/0/1995, makalah hasil penelitian adalah suatu karya tulis yang disusun oleh seseorang atau kelompok orang yang membahas suatu pokok bahasan yang merupakan hasil penelitian. Dengan demikian, KTI ini merupakan laporan hasil dari suatu kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Laporan hasil penelitian tersebut dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain:

Buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional yang ditulis berdasar hasil penelitian yang dilakukan oleh guru, masih sangat terbatas jumlahnya. Sangat jarang guru mengirimkan KTI dalam bentuk ini. Berupa tulisan (artikel ilmiah) yang dimuat pada majalah ilmiah (jurnal) yang diakui oleh Depdiknas. Masing-masing jurnal ilmiah umumnya mempunyai persyaratan dan tata cara penulisan artikel hasil penelitian yang spesifik dan berlaku untuk jurnal yang bersangkutan. KTI yang diajukan guru dalam bentuk publikasi ini, akhir-akhir ini semakin meningkat jumlahnya.

Menilai KTI hasil Penelitian

Sebelum diajukan untuk dinilai, KTI harus terlebih dahulu dinilai oleh si penulis. Penulis hendaknya mampu menilai apakah KTI yang diajukannya, telah memenuhi syarat sebagai KTI yang benar dan baik. Bagaimana kriteria KTI yang benar dan baik? Di samping memakai berbagai kriteria penulisan karya tulis ilmiah yang umum dipergunakan, terdapat beberapa kriteria dan persyaratan yang khusus yang digunakan untuk menilai KTI dalam pengembangan profesi guru (lihat peraturan dan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Diknas, yang berkaitan dengan hal ini) Umumnya kerangka penulisan KTI yang berupa hasil laporan kegiatan penelitian, adalah sebagai berikut:

Ciri khusus KTI ini merupakan laporan hasil penelitian. Untuk dapat membuat laporan penelitian, si penulis terlebih dahulu harus melakukan penelitian. Kegiatan penelitian yang umum dilakukan oleh guru adalah di bidang pembelajaran di kelas atau di sekolahnya. Karena, tujuan pengembangan profesinya adalah di bidang peningkatan mutu pembelajarannya. Macam kegiatan penelitian pembelajaran yang umum dilakukan adalah penelitian tindakan kelas, atau penelitian eksperimen di bidang pembelajaran. Kerangka Penulisan KTI laporan hasil penelitian umumnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu: Bagian pendahuluan yang terdiri dari : halaman judul, lembaran persetujuan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran, serta abstrak atau ringkasan. Bagian Isi yang umumnya terdiri dari beberapa bab sebagai berikut (a) Bab I Pendahuluan atau permasalahan, yang berisi latar belakang masalah, pembatasan, rumusan masalah, tujuan, kegunaan, dll, (b) Bab II Kajian Teori atau pembahasan kepustakaan, (c) Bab III Metode Penelitian (d) Bab IV Hasil Penelitian dan Diskusi Hasil Penelitian, (e) Bab V Kesimpulan dan Saran Bagian Penunjang yang umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

Di samping kriteria-kriteria di atas, KTI laporan hasil penelitian itu harus memenuhi kriteria “APIK,” yang artinya adalah

A asli, penelitian harus merupakan karya asli penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun dengan niat dan prosedur yang tidak jujur. Syarat utama karya ilmiah adalah kejujuran. P perlu, permasalahan yang dikaji pada penelitian itu memang perlu, mempunyai manfaat. Bukan hal yang mengada-ada, atau memasalahkan sesuatu yang tidak perlu lagi dipermasalahkan. I lmiah, penelitian harus berbentuk, berisi, dan dilakukan sesuai dengan kaidahkaidah kebenaran ilmiah. Penelitian harus benar, baik teorinya, faktanya maupun analisis yang digunakannya. K konsisten, penelitian harus disusun sesuai dengan kemampuan penyusunnya. Bila penulisnya seorang guru, maka penelitian haruslah berada pada bidang kelimuan yang sesuai dengan kemampuan guru tersebut. Penelitian di bidang pembelajaran yang semestinya dilakukan guru adalah yang bertujuan dengan upaya peningkatan mutu hasil pembelajaran dari siswanya, di kelas atau di sekolahnya.

Ciri-ciri yang menampak, KTI yang tidak “asli “ dapat terindentifikasi antara lain melalui, (1) adanya bagian-bagian tulisan , atau petunjuk lain yang menunjukkan bahwa karya tulis itu merupakan skripsi, penelitian atau karya tulis orang lain, yang dirubah di sana-sini dan digunakan sebagai KTI nya (seperti misalnya bentuk ketikan yang tidak sama, tempelan nama, dll); (2) terdapat petunjuk adanya lokasi dan subyek yang tidak konsisten; (3) terdapat tanggal pembuatan yang tidak sesuai; (4) terdapat berbagai data yang tidak konsisten, tidak akurat; (5) waktu pelaksanaan pembuatan KTI yang kurang masuk akal (misalnya pembuatan KTI yang terlalu banyak dalam kurun waktu tertentu); (6) adanya kesamaan isi, format, gaya penulisan yang sangat mencolok dengan KTI yang lain KTI yang tidak “perlu” , dapat terlihat antara lain dari; (7) masalah yang dikaji terlalu luas, tidak langsung berhubungan dengan permasalahan yang berkaitan dengan upaya pengembangan profesi si penulis; (8)masalah yang ditulis tidak menunjukan adanya kegiatan nyata penulis dalam peningkatan / pengembangan profesinya sebagai guru; (9) permasalahan yang ditulis, sangat mirip dengan KTI yang telah ada sebelumnya, telah jelas jawabannya, kurang jelas manfaatnya dan merupakan hal mengulangulang; (10) tulisan yang diajukan tidak termasuk pada macam KTI yang memenuhi syarat untuk dapat dinilai.

KTI merupakan “bukti” dari kegiatan pengembangan profesi dari si penulis. Sehingga apa yang dipermasalahkan haruslah sesuatu yang diperlukan dalam upaya ybs untuk mengembangkan profesinya. Karena itu, harus jelas apa manfaat penelitian yang dilakukan bagi siswa di kelas / sekolahnya

Sebagai karya ilmiah, KTI harus menunjukkan bahwa masalah yang dikaji berada di khasanah keilmuan dengan menggunakan kriteria kebenaran ilmiah dan mengunakan metode ilmiah serta memakai tatacara penulisan ilmiah.

Hal yang ditulis dalam KTI harus sesuai (konsisten) dengan kompetensi si penulis, dan sesuai dengan tujuan si penulis untuk pengembangan profesinya sebagai guru

KTI yang tidak “ilmiah” dapat terlihat dari, (1)masalah yang dituliskan berada di luar khasanah keilmuan; (2) latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah tersebut dengan upayanya untuk mengembangkan profesinya sebagai widyaiswara; (3) rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada KTInya; (4) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya; (5) landasan teori perlu perluas dan disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas; (6) bila KTInya merupakan laporan hasil penelitian, tampak dari metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar; (7) kesimpulan tidak/belum menjawab permasalahan yang diajukan KTI yang tidak “konsisten” dapat terlihat dari; (  masalah yang dikaji tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru; (9) masalah yang dikaji tidak sesuai latar belakang keahlian atau tugas pokok penulisnya; (10) masalah yang dikaji tidak berkaitan dengan upaya penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru (misalnya masalah tersebut tidak mengkaji permasalahan di bidang pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu siswa di kelasnya yang sesuai dengan bidang tugasnya).

Baca Juga :