Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Dalam Pembentukan Identitas Nasional

Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Dalam Pembentukan Identitas Nasional

Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Dalam Pembentukan Identitas Nasional

Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Dalam Pembentukan Identitas Nasional

Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Dalam Pembentukan Identitas Nasional

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia

dihadapkan dengan adanya masalah pembangunan dan pembinaan bangsa. Hal itu karena bangsa Indonesia masyarakatnya majemuk, bangsa Indonesia harus menghadapi keanekaragaman suku bangsa, agama, ras, bahasa, lapisan sosial, adat istiadat, dan kesenjangan ekonomi. Maka untuk membentuk dan menjaga keanekaragaman dalam keserasian diperlukan upaya-upaya yang dapat membina sikap-sikap menghargai, saling menghormati, kerja sama antar suku bangsa, agama, ras, bahasa, agama, lapisan sosial, kesenjangan ekonomi, serta mengakui eksistensi.

Para pendahulu/ para pendiri negara, menjelang proklamasi Kemerdekaan Rakyat Indonesia telah mengarifi kondisi dan menyediakan alat pemersatu dengan daya tangkal untuk mengontrol kemajemukan dengan faham yang melahirkan nilai-nilai integralistik.
Nilai kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dalam peralihannya harus diusahakan serta diperjuangkan, untuk generasi remaja yang kelak sebagai penerus serta sebagai pewaris budaya bangsa, maka harus diupayakan secara terus-menerus mulai dari haribaan keluarga sampai mereka meninggalkan sekolah. Bagaimanapun juga pendidikan merupakan wahana paling wajar sebagai upaya menanamkan nilai-nilai tersebut. Sekolah juga sebagai tempat untuk mengembangkannya terutama para remaja usia sekolah.

Pengajaran Sejarah

yang di dalamnya terdapat pengajaran sejarah nasional, adalah salah satu di antara sejumlah pengajaran dari mulai Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, yang tugasnya untuk menanamkan semangat kebangsaan dan bertanah air. Dari pengajaran sejarah akan membangkitkan kesadaran simpati, empati dan toleransi terhadap orang lain dengan disertai kemampuan mental untuk mendorongan imajinasi dan kreativitas.
Dengan kemampuan untuk mengindetifikasikan diri secara simpati ataupun empati dengan orang lain akan menjadi benang ikatan yang membentuk kebersamaan dan keterikatan/solidaritas. Sedangkan dengan toleransi akan mendidik siswa untuk dapat memahami nilai-nilai yang tidak dianutnya meskipun bukan tanpa pengetahuan/kritik.
Kemampuan menilai kritis dengan mengakui validitas perbedaan adalah merupakan suatu modal untuk menerima ketidaksamaan dalam kemajemukan. Toleransi juga mendidik siswa untuk berjiwa demokratik, dengan saling menghargai dan menghormati pendapat serta pemikiran orang lain, yang diikuti landasan tanggung jawab dan komitmen masyarakat bangsa untuk mewujudkan cita-cita suatu bangsa. Pengajaran sejarah nasional di sekolah, akan memperkenalkan peserta didik kepada pengalaman kolektif dan masa lampau bangsanya. Dengan pangajaran itu juga diharapkan membangkitkan kesadaran dalam kaitannya dengan kehidupan bersama dalam komunitas besar, sehingga akan tumbuh kesadaran kolektif dalam memiliki kebersamaan dalam sejarah. Proses dari pengenalan diri ini yang merupakan awal timbulnya rasa harga diri, ketertarikan dan kebersamaan, rasa memiliki dan keterpautan, kemudian rasa bangga terhadap bangsa dan tanah air.
Jika upaya pendidikan ini dilakukan berulangkali, sehingga siswa di dalam tindakan dan sikap pengungkapan emosi-emosi individual dan kolektif dalam relasi-relasi terhadap bangsa dan tanah air, maka seiring dengan berjalannya waktu akan tumbuh, akan membentuk karakter/kepribadian bangsa yang bersangkutan.

Kelemahan dalam pengajaran sejarah

tampak pada proses pembelajaran siswa yang kurang mengikutsertakan mereka dan mentolerir atau membiarkan budaya diam yang berlangsung di dalam kelas. Kondisi yang demikian berakibat pengajaran sejarah, khususnya pengajaran sejarah nasional kurang berhasil dalam menggairahkan pembelajaran siswa untuk masuk dalam penghayatan nilai-nilai secara mendalam yang ditunjukkan dengan pengungkapan ekspresi secara vokal. Selain itu juga karena faktor-faktor lain yang kurang menunjang yaitu luasnya cakupan materi dalam pengajaran lain yang sejenis, dan dukungan buku teks dan bahan bacaan lainnya bersifat informatif dari pada merangsang daya nalar ataupun dalam berfikir kritis siswa.
Dalam pengajaran sejarah nasional sebenarnya terdapat potensi-potensi yang merupakan acuan, sumber utama, dan bahan pengayaan bagi siswa yang terlibat dalam proses menemukan jati diri, dan itupun tergantung berapa besar kadar dan derajat penyesuian diri peserta didik terhadap komunitas bangsanya.
Terlalu luasnya bahan dalam pangajaran sejarah nasional, sehingga keperluan untuk membangkitkan semangat berbangsa dan bertanah air, mengacu pada pilihan konten/isi yang tepat sesuai dengan kebutuhan.
Pada sekarang ini peluang untuk pendalaman sudah lebih banyak tersedia, hal ini karena adanya bacaan yang dapat mendukung sejarah nasional diterbitkan. Problem-problem lain yang dihadapi dalam upaya pengajaran sejarah nasional ialah adanya kesenjangan antara nilai-nilai berharga di sekolah dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Untuk mengatasi hal itu

maka perlu pelestarian dan peneguhan nilai-nilai yang telah berhasil diraih itu dapat dilakukan dengan kesenjangan yang ada, agar peserta didik tetap pada jati diri dan kepribadiannya.
Perkembangan perspektif dalam pengajaran sejarah nasional, antara lain adalah kemampuan untuk mengantisipasi masa depan, dengan siswa yang dibekali kemampuan untuk mengatasi tantangan masa kini dan yang akan datang dengan meningkatkan kemampuan nalar dan kreativitas, serta harus memiliki jati diri dan kepribadian yang tangguh yang diperhalus dengan rasa kemanusian yang tinggi. Selain itu juga diikuti dengan semangat kebangsaan yang tahan uji dan berhati nurani yang dibangkitkan oleh pengajaran sejarah nasional.
Harapan bagi pengajaran sejarah dan pengajaran Sejarah Nasional Indonesia, yang sebenarnya masih terdapat kekurangan perhatian dan minat belajar siswa, namun nyatanya saat ini dari ungkapan-ungkapan yang muncul ke permukaan, masih banyak yang memperhatikan, meminati, membaca, mengkaji, dan mengagumi sejarah. Maka dari itu untuk kepentingan mereka, dan untuk kepentingan menggugah minat peserta didik lainnya, nampaknya sangat perlu dilakukan pengembangan perspektif pengajaran sejarah nasional.
Baca Artikel Lainnya: