Resensi Buku: Ketika Sepakbola Tak Menyenangkan Lagi

Resensi Buku: Ketika Sepakbola Tak Menyenangkan Lagi

Resensi Buku Ketika Sepakbola Tak Menyenangkan Lagi

Resensi Buku Ketika Sepakbola Tak Menyenangkan Lagi

Judul Buku : Simulakra Sepakbola

Penulis : Zen RS

Penerbit : Indie Book Coorner

Tahun Terbit : 2016

Jumlah Halaman : 261

Harga : 70.000

BANDUNG, DISDIK JABAR — Sosiolog post modern, Jean Baudillard

pernah mengatakan bahwa di era modern seperti saat ini, sesuatu yang merupakan simulasi, lambat laun bisa dan dapat terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Dan tayangan sepakbola adalah salah satu yang Zen RS garis bawahi sebagai salah satu bukti shahih dari sebuah simulasi yang terlihat lebih nyata daripada pertandingan sepakbola.

Ya, dari 25 esai yang ia tulis di buku terbitan Indie Book Corner ini, ada satu gagasan yang ia angkat sesuai dengan judul bukunya, yaitu simulakra sepakbola. Menurut pendiri panditfootball.com ini, dewasa kini permainan sepakbola terlihat kalah dan tidak lebih asyik ketimbang tayangan sepakbola itu sendiri. Tayangan sepakbola yang merupakan simulasi dari pertandingan sepakbola, seiring berkembangnya kecanggihan teknologi, telah mengacak – acak antara mana “yang riil” dengan yang “tidak riil”, hingga kemudian simulasi menjadi lebih asyik dari pada kenyataan itu sendiri, itulah yang kita sebut dengan simulakra.

Dimana lagi, dalam pertandingan sepakbola, meskipun kita berada jauh di Indonesia

, kita bisa melihat secara langsung pertandingan North West Derby antara Liverpool dan Manchester United, dengan suguhan statistik yang luar biasa, dengan tampilan details yang beragam , seperti bisa melihat tayangan ulang tendangan melengkung Mohammed Salah, atau melihat air ludah David de Gea yang muncrat ketika berteriak pada bek tim nya agar menjaga pertahanan dengan baik jika bukan dalam Tayangan Sepakbola ?

Dengan fenomena seperti ini, perwajahan buku ini dapat kita pahami, dengan ada seorang pemain sepakbola yang salto yang akan menendarang televisi, bukan bola. Sepakbola sudah tidak asyik lagi. Ia kalah oleh tayangan sepakbola itu sendiri.

Ada dua tokoh yang menjadi acuan dalam esai utamanya ini, yaitu Sosiolog Prancis,

Jean Baudillard yang mahsyur dengan pemikiran post-modernya yang terkenal dengan teori Simulakra dan Hipperealitas, dan Sastrawan Argentika yang bernama Jorge Luis Borges yang secara terang – terangan, lewat karya cerita pendek “Esse Est Perpici” amat membenci sepakbola.

Pemikiran dua tokoh ini dengan jenius Zen RS campur adukan menjadi perpaduan yang saling mengisi dan benar – benar membuat esainya kaya akan teori dan gagasan dan dengan pelan – pelan dan seksama, menuntun pembaca untuk bisa memahami apa yang ia maksudkan serta dengan solusi – solusi yang ia tawarkan.

Buku setebal 261 halaman ini terbagi menjadi 4 bab. Pertama Jejak, yang merupakan perjalan penulis dalam hiruk pikuk sepakbola Indonesia. Kedua dunia simulasi, yang merupakan intisari dari judul buku ini. Ketiga Koloni Bola, membahas sejarah persepakbolaan Indonesia di masa Kolonial Belanda, dan yang terakhir narasi kaki – kaki, esainya tentang pemain – pemain termahyur di Dunia.

Namun diluar itu, bagi kalian penikmat tulisan sepakbola, ini adalah buku wajib yang akan menambah cakrawala kalian tentang sepakbola. Pun bagi kalian yang kurang menyukai sepakbola bisa mencoba untuk membacanya. Karena buku ini tak utuh dan penuh dengan sepakbolanya saja, seperti yang dijelaskan diatas, ada pengetahuan – pengetahuan lain yang akan anda dapatkan dalam buku ke empat Zen RS ini.***

 

Sumber :

https://egriechen.info/mandi-wajib/