UNBK Cirebon Kena Hack

UNBK Cirebon Kena Hack

UNBK Cirebon Kena Hack

UNBK Cirebon Kena Hack

KEJAKSAN – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) rawan diserang hacker. Serangan hacker

tersebut terjadi pada 22 Maret dan 2 April 2016. Beruntung gangguan dari pihak yang tidak bertanggungjawab itu berhasil diatasi tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

”Tapi kita masih khawatir ada serangan susulan. Situs resmi itu kan untuk mengambil dan mengirimkan soal UNBK dan UN kan masih berlangsung,” ujar Kepala SMAN 2 Kota Cirebon, Drs Totong Muslihat MM kemarin (5/4).

Serangan hacker, kata Totong, tidak hanya terjadi di SMAN 2. Dia juga mendengar masalah serupa di sekolah lain. Sebab, serangan ke website UNBK benar-benar membuat web tersebut tidak bisa diakses. Ketika web sudah tidak bisa diakses, siswa peserta UN tidak bisa log in menggunakan akun mereka. Secara otomatis, ujian pun tidak bisa dilakukan. ”Semoga semua lancar dan tidak ada hacker bisa menembus keamanan web lagi,” harapnya.

Tak hanya serangan hacker, keterbatasan komputer menjadi kendala tersendiri. Sedikitnya 398 siswa kelas XII

mengikuti UNBK, sementara jumlah komputer yang digunakan untuk mengerjakan soal hanya ada 150 buah. Itupun 80 diantaranya laptop pinjaman dari orang tua siswa.

Persoalan lain di SMAN 2, ada siswa yang terdaftar masuk sesi pertama pagi hari justru muncul absensinya di sesi kedua atau siang hari. Karena muncul absensinya di sesi kedua, siswa diikutkan ke sesi tersebut. “Ini masalah-masalah yang harus diperbaiki ke depannya,” tukas dia.

UNBK terlihat lebih modern dengan komputerisasi. Namun, tetap saja ada celah untuk aksi contek menyontek

. Atas hal itu, Totong memastikan soal antara satu dengan lainnya dalam satu ruangan berbeda-beda.

Setiap siswa memiliki user name dan password masing-masing. Lebih dari itu, dia selalu mengingatkan siswa yang mengikuti UNBK agar jangan sampai percaya jawaban dari luar maupun teman. “Soalnya beda, pasti jawabannya berbeda juga,” kata dia.

Sejak November 2015, siswa sudah diberikan pelatihan mengoperasikan komputer. Termasuk memberi pemahaman agar tidak melakukan aksi contek menyontek. Siswa harus percaya diri dan jujur, apalagi di unas tahun ini tidak ada istilah lulus atau tidak lulus.

Soal aksi contek menyontek, tidak dipungkiri bisa saja dilakukan siswa dengan memanfaatkan celah yang ada. Kendati demikian, Kepala SMAN 1 Kota Cirebon, Dr Nendi SPd MM yakin, mekanisme pembagian soal untuk setiap siswa sudah meminimalisasi upaya contek menyontek. “Sejak sosialisasi hingga pelaksanaan, 400 siswa juga sudah diberi pemahaman,” katanya.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/teks-cerpen/